Tampilkan postingan dengan label Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2023

TTM KLIP: Membuat Target untuk Raih Keinginan

 



Tema Tantangan Menulis (TTM) KLIP kini hadir kembali. Sebagai tema perdana di tahun 2023 ini, PJ memberikan tema 'Target' sebagai tema tantangan. Yap, mumpung masih awal-awal tahun, menyetel target untuk rencana-rencana dan impian-impian yang kita miliki itu sungguh asyik dan dapat membuat kita lebih termotivasi.


Apa itu target?

Target itu apa? Kalau dari google search, kita bisa dapatkan artinya secara sederhana, yaitu komitmen yang harus dicapai. Sesuatu hal yang sudah ditetapkan sejak awal untuk diraih dengan melalui sebuah proses.

Biasanya, target ini harus bisa dicapai dalam jangka waktu yang tertentu yang sudah kita sepakati. Misalkan, harus bisa menyelesaikan sebuah naskah fiksi dalam waktu seminggu sebanyak minimal 1.500 kata. Maka, kita harus komitmen pada diri sendiri untuk menulis naskah fiksi dengan target yang diinginkan, yaitu minimal 1.500 kata selama seminggu.


Yang Perlu Dilakukan untuk Mencapai Target?

Sudah punya target yang akan dicapai, maka saatnya mulai berusaha dengan menentukan rencana dan strategi apa saja yang harus dilakukan. Dengan begitu, kita bisa mempunyai gambaran dan urutan langkah-langkah kerja dalam menyelesaikan pekerjaan.

Sebagai contoh, dalam membuat sebuah naskah atau tulisan berupa cerita pendek fiksi, kita perlu mendapatkan ide berupa tema yang akan diangkat menjadi sebuah cerita, tokoh-tokohnya, alur cerita, konflik, penyelesaian, hingga pada nilai atau pesan yang terkandung di dalamnya.

Kelengkapan sebuah rencana dan langkah-langkah ini akan membantu kita menyelesaikan tulisan sesuai dengan target yang sudah ditentukan.


Target Jangka Pendek

Siapapun orangnya, pasti di dalam dirinya mempunyai target pada sesuatu yang akan dan sedang dilakukan. Termasuk diriku, terutama di dalam hal menulis. Ada target jangka pendek dan ada pula jangka panjang.

Jika sejak tahun lalu aku banyak menulis free writing berupa curcolan, maka di tahun ini aku membuat target jangka pendek untuk lebih banyak bisa membuat tulisan yang lebih baik dan runut. Diantaranya, aku ingin bisa menghasilkan tulisan fiksi berupa cerita pendek maupun sampai pada sebuah novel. 

Cerita anak juga menjadi satu targetku, sebab ada tantangan tersendiri dalam menulis cerita anak yang membutuhkan ketelitian dalam pemilihan bahasa, kata-kata, tema cerita, dan juga pesan moral yang disampaikan.

Tentunya, bisa menulis minimal 300-500 kata setiap harinya merupakan target jangka pendek yang harus aku capai dan selesaikan dengan baik.


Target Jangka Panjang

Target lolos kembali menulis harian di program KLIP, hingga lulus menyusun skripsi di akhir sesi, merupakan bagian dari rencana jangka panjang sampai akhir tahun 2023 ini. 

Selain itu, target jangka panjang lainnya adalah bisa menghasilkan karya buku antologi dan buku solo kembali, yang dapat menghibur dan bermanfaat bagi para pembacanya.


Penutup

Hal yang paling harus diperhatikan ketika akan membuat sebuah target menurutku adalah mengukur kemampuan diri terlebih dahulu. Namun demikian, tetap berusaha untuk mengembangkannya menjadi lebih baik dan lebih maksimal lagi.

Meluruskan niat dan tujuan juga menjadi sebuah pegangan ketika kita sudah yakin pada sebuah impian untuk dicapai. Sehingga akan ada semangat dan motivasi selalu dari dalam diri untuk meraih dan menembus target kita sesuai keinginan.


#KLIP

#TemaTantanganMenulis


Sabtu, 27 Agustus 2022

Bawa Bekal Makanan, Yuk!



Dulu, kalau dibawakan bekal ke sekolah, itu rasanya males sekali. Bukan karena tak suka dengan makanan yang dibawakan dari rumah, tetapi merasa repot harus bawa-bawa kotak makanan, serta godaan jajanan dan makanan dari kantin lebih menarik untuk disambangi bersama teman-teman.


Tapi bukan berarti aku tak pernah membawa bekal makanan. Pada akhirnya pun, aku juga membawa bekal makanan dari rumah. Bahkan sampai aku bekerja pun, aku masih sering membawa bekal makanan. 


Asyiknya sekarang, bekal makanan menjadi hal yang paling sering dibicarakan di kalangan anak sekolah juga pekerja kantoran. Mulai dari peralatan bekal seperti kotak makan dan botol minum, isi bekal sampai tutorial membuat bekal yang menarik dan unyu-unyu. Printilan perbekalan pun semakin marak dijual untuk membuat tampilan bekal menjadi lebih menggiurkan untuk disantap.


Dari sekian banyaknya makanan yang menjadi pilihan untuk bekal, aku paling sering dan suka dengan bekal nasi putih, telur mata sapi goreng ala ibuku, ditambah kecap manis dan saus sambal atau sambal dabu-dabu. Itu bekal paling mudah, sederhana tetapi karena disiapkan oleh ibuku, jadinya istimewa dan rasanya lebih enak. No tipu-tipu. No bohong-bohong. Karena pada dasarnya, aku juga tak suka ribet-ribet membawa bekal makanan. 


Oya, ada satu menu andalan untuk bekal yang kurasa banyak orang lain pun mungkin sependapat denganku :). Yap, mie goreng instan. Ditambah juga dengan nasi putih atau telur mata sapi. Klop, deh! Tapi, ada juga yang mungkin memilih menu andalan lain untuk bekal, seperti roti isi coklat atau selai. Tergantung selera.


Kebiasaan membawa bekal ini pun kuteruskan pada anak-anakku. Mereka selalu membawa bekal ketika pergi sekolah. Hampir tidak pernah mereka tidak membawa bekal, karena aku tak ingin mereka jajan sembarangan yang aku sendiri tak tahu kebersihan dan kandungan makanan yang dibeli.


Tak perlu mahal atau ribet, yang penting mereka ada membawa bekal ke sekolah, sehingga mereka tak perlu repot-repot untuk pergi membeli makanan dan minuman ke kantin. Meskipun sesekali kuperbolehkan, tetapi tentu saja ini dengan alasan yang harus bisa dipertanggungjawabkan. Misalkan, bekal air putih yang dibawa habis, atau mungkin bekal telah habis di saat istirahat pertama sekolah. 


Sebisa mungkin, bekal sekolah tak hanya makanan besar, makanan kecil pun kusiapkan. Aku juga sering bertanya pada anak-anak mengenai bekal apa yang ingin mereka bawa nanti. Jadi tidak melulu mereka selalu menerima apa yang aku siapkan, tetapi mereka pun juga memberitahukan apa keinginannya. Dan sejauh itu bisa aku siapkan, aku usahakan untuk kusiapkan. Namun jika dirasa saat itu aku tidak bisa, aku pasti katakan untuk mengganti permintaan mereka dengan yang lain.


Tidak cuma makanan, kadangkala tempat bekalnya saja, anak-anak juga memilih sendiri. Apalagi sekarang wadah makanan sudah beraneka macam bentuk, warna dan modelnya. Mulai dari yang sederhana sampai yang canggih. Mulai dari yang harganya murah sampai yang lumayan. Semuanya memang tergantung bahan, ketahanan dan fungsinya. 


Menyediakan bekal itu bagiku salah satu bentuk perhatian juga. Perhatian pada kesehatan diri yang secara tidak langsung ada semacam transfer energi kepada yang menyantapnya. Apalagi jika kita mengerjakannya dengan penuh sukacita, senang, gembira, walaupun untuk menyiapkannya membutuhkan waktu dan usaha yang tidak mudah (bagi sebagian orang, ya). Pastinya walaupun sederhana, bekal makanan tersebut akan menjadi penyemangat dan terselip doa baik bagi yang memakannya.


Setidaknya, itu pun yang kurasakan ketika memakan bekal dari ibuku. Dan aku yakin itu pula yang dirasakan oleh anak-anakku. Oya, aku pun juga suka menyiapkan bekal untuk suami, agar dia tak perlu susah-susah mencari makan siang ketika di tempat kerja. Namun jika tak sedang bersama, mau tak mau, aku tak bisa menyiapkan bekal untuknya.


Well, senangnya menyiapkan bekal makanan itu menjadi kepuasan tersendiri bagiku. Apalagi jika sampai bisa membuatnya dengan semenarik mungkin, seperti ala-ala bento dengan tingkat kerumitan yang beradu dengan waktu untuk membuatnya :D.


Paling tidak, bekal makanan itu sendiri tentu saja manfaatnya (diharapkan) dapat menghemat budget jajan di luar, lebih bisa menjaga kesehatan, hati senang dan puas karena bisa berkreasi, dan bagi yang menyantapnya pun mempermudah diri agar tak repot memikirkan akan makan apa ketika waktu makan tiba.


Jangan khawatir … jajan boleh saja, tapi membawa bekal makanan dan minuman lebih baik ☺️


#KLIP

#TTM






Sabtu, 20 Agustus 2022

Ceritaku tentang Berlomba&Berkompetisi

 





Sepertinya setiap anak di Indonesia ini tak ada yang tak pernah ikut lomba tujuh belasan. Entah di daerah rumahnya atau di sekolahnya. Bahkan yang sudah bukan anak-anak pun, sepertinya juga mengikuti lomba di kantor atau di lingkungan pergaulannya. Seru dan pastinya menantang.

Mau namanya lomba ataupun kompetisi, mau di acara tujuh belasan ataupun di acara lainnya, pastinya kegiatan ini akan ada yang menang dan akan ada yang belum beruntung, alias kalah. Tentunya akan ada yang bahagia dan ada pula yang sedih. Selain itu, ada yang akan dapat hadiah, dan ada pula yang harus menerima dengan ikhlas tidak mendapatkan apa-apa selain ucapan terima kasih karena telah berpartisipasi.

Sekilas mengingat lomba tujuh belasan yang paling berkesan untukku ketika masih zaman kanak-kanak. Aku jadi juara dua lomba lari mengitari kompleks perumahan om dan tanteku. Itu rasanya sudah senang sekali, karena kalau tak salah, lawanku seorang anak yang lebih tua dan lebih besar dariku. Aku tak begitu ingat apa hadiah yang kudapat, tetapi bagiku menang menjadi juara dua saja sudah menggembirakan untukku.

Setelah beranjak dewasa, lomba tujuh belasan tak pernah lagi banyak kuikuti, kecuali saat kantor tempat kerjaku mengadakan untuk seru-seruan. Nah, pada saat itu, kebersamaan dan kemeriahan lebih diutamakan. Namun jika menang, tetap menjadi keseruan tersendiri karena dapat hadiah. 

Tujuh belasan memang identik banget dengan lomba-lomba yang makin tahun makin banyak jenis dan ide-ide menarik untuk dijadikan lomba. Berarti anak-anak dan pemuda-pemudi Indonesia sudah mulai sangat kreatif dalam mengadakan lomba-lomba agar lebih menarik dan banyak yang mau ikut serta. 

Tapi lomba-lomba yang ibaratnya kalau tak diadakan tak afdhol itu biasanya tetap dilakukan, contohnya lomba membawa kelereng pada sendok dengan mulut, lomba makan kerupuk, lomba balap karung dan lomba tarik tambang. Lomba-lomba ini sepertinya ikonik banget dengan tujuh belasan. Kayak kalau tidak dilombakan itu, seperti ada yang kurang hehehe.

Bicara lomba tujuh belasan, pasti tak ada habisnya karena keseruan menyambut hari kemerdekaan negara Indonesia. Tapi yang namanya lomba atau kompetisi tidak hanya berlangsung saat ada perayaan tujuh belasan, kan? Betul! Lomba atau kompetisi itu pastinya selalu ada, dalam berbagai jenis dan berbagai event atau agenda.

Tak cuma lomba tujuh belasan saja yang pernah kuikuti. Aku juga mengikuti lomba-lomba lain diluar itu saat masih di bangku sekolah. Sebut saja, lomba cerdas cermat dokter kecil antar SD, lomba asramatika, lomba cabang lari saat PORSENI SD, dan lomba menari.

Ketika beranjak duduk di bangku SMP, SMA bahkan kuliah, aku juga asyik ikut lomba atau kompetisi bola basket antar sekolah, antar daerah dan antar klub. Yang paling tertinggi untukku kala itu adalah mengikuti PON cabang bola basket mewakili daerah. Itu tak terlupakan sekali bagiku, walaupun saat itu tak bisa membanggakan daerah meraih posisi juara.

Oya, belajar dengan baik saat sekolah dan kuliah itu juga sebuah kompetisi jangka panjang demi meraih nilai dan peringkat yang terbaik, walaupun aku tak dituntut orang tua, tetapi rasanya aku harus tetap berusaha bisa memberikan yang terbaik, dengan kemampuan dan dukungan yang telah diberikan oleh orang tuaku.

Dari semua lomba dan kompetisi yang kuikuti, hal yang bisa kuambil sebagai pelajaran di hidup adalah bahwa sesekali kita memang memerlukan kompetisi untuk melihat dan mengukur kemampuan kita, juga kemampuan orang lain. Sehingga kita tak akan selalu merasa menjadi orang yang paling hebat dan sombong dengan kemampuan yang kita miliki.

Mengikuti lomba dan kompetisi ini juga bisa dibilang seperti melatih kesabaran dan daya juang dalam meraih tempat terbaik karena berhasil memperoleh keberhasilan dan kemenangan. Semangat inilah yang memang harus selalu ditanamkan pada diri, dengan catatan tidak mendzolimi orang lain.

Kalau lomba tujuh belasan sudah sering diikuti, lomba-lomba lain juga berpartisipasi … maka yang terpenting juga menurutku, sebagai pengingat untuk diriku juga, jangan lupa untuk selalu berlomba-lomba berbuat kebaikan dan mencari pahala dari Allah SWT, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya ❤️. 

Insya Allah, Biidznillah, Bismillah.

 

Sabtu, 07 Mei 2022

Mencatat Keuangan, Pentingkah?

Made by Canva


Jika sebuah perusahaan atau kantor memiliki seseorang di bagian pencatatan keuangan masuk dan keluar, maka di dalam sebuah keluarga hal ini sebenarnya juga ada. Pada sebuah keluarga, biasanya sebagian besar keluarga menyerahkannya pada istri. Namun tak jarang ada beberapa keluarga yang masalah keuangan tetap dipegang oleh sang suami.

Menurutku hal ini sah-sah saja, mau dipegang oleh suami ataupun istri. Semua ini tergantung kesepakatan awal masing-masing keluarga. Asalkan bukan dipegang orang tua atau mertua, ya. Yang ini, jelas Big No menurutku.

Dibalik siapa pemegang kekuasaan atas pemasukan dan pengeluaran dana, disini juga perlu diperhatikan, apakah ada pencatatan atas kedua tersebut.

Lagi-lagi, ini tergantung dari masing-masing keluarga. Ada yang maunya simpel dan tidak ribet, ya tinggal menerima dana lalu mengeluarkannya, tanpa perlu catat sana sini. Sepertinya ini banyak berlaku pada pasangan yang mungkin saja memang tak mau ribet dan dananya berlebih alias sangat berkecukupan. Tapi, ada juga yang walaupun dananya berlimpah sana sini, dalam hal pengeluaran tetap kekeuh untuk mencatat setiap detil pengeluarannya.

Sementara itu, bagi pasangan yang masih sangat memperhatikan dana masuk yang diperoleh, biasanya pengeluaran dana akan dicatat dengan rapi. Tak hanya mencatat pengeluaran, tapi sebuah perencanaan akan dibuat sebelum mengeluarkan dana.

Menurutku, mau seberapa besar pendapatan yang diperoleh, pencatatan keuangan dalam keluarga sangatlah penting. Ini dimulai dengan mencatat berapa pendapatan rutin seperti gaji yang diperoleh, sampai pendapatan yang mungkin didapat secara temporer atau tidak rutin seperti bonus, insentif atau hasil dari menjual sesuatu.

Kemudian membuat perencanaan jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek biasanya mempunyai durasi sebulan, atau mungkin ada juga yang setiap minggunya pun direncanakan. Diantara perencanaan jangka pendek misalkan dalam sebulan antara lain seperti uang bulanan sekolah, uang belanja, tagihan air dan listrik, atau jika ada yang memiliki angsuran bulanan pun harus dicatat. Dari perencanaan bulanan tadi, akan mengerucut ke pengeluaran mingguan sampai harian.

Sementara itu untuk perencanaan jangka panjang, biasanya lebih mengarah pada mencatat besaran pengeluaran tahunan, seperti pembayaran PBB, STNK kendaraan sampai pada uang sekolah tahunan anak.

Membuat perencanaan keuangan untuk hal-hal yang sudah ada peruntukkan rutinnya akan memudahkan kita untuk menghitung secara kasar pengeluaran dana yang akan diambil dari pendapatan yang diperoleh. Tentu saja kita pun tak boleh melupakan untuk menyisihkan dana zakat/sedekah, tabungan, kesehatan dan dana tak terduga. 

Selain itu, dengan mencatat perencanaan dan pengeluaran, kita bisa melihat realisasi yang terjadi apakah lebih besar, lebih kecil atau sama dengan yang sudah kita anggarkan. Ini bisa menjadi review kita kedepannya dalam mencatat rencana pengeluaran berikutnya. 

Mencatat keuangan juga bermanfaat agar kita bisa disiplin dalam menggunakan dana. Karena jika kita asal-asalan dalam mengeluarkan dana tanpa mencatat, maka dengan sendirinya kita juga akan sulit mengetahui sudah seberapa banyak dana yang kita gunakan. Lama-lama akan seperti peribahasa besar pasak daripada tiang, yaitu besar pengeluaran daripada pendapatan. Akhirnya belum saatnya menerima penghasilan kembali, kita sudah mulai payah mengatur keuangan, dan dikhawatirkan ujung-ujungnya tergoda dengan tawaran pinjaman sana sini.

Semua ini memang pilihan masing-masing keluarga. Bahkan belum berkeluarga pun, sudah banyak orang yang mau meluangkan sedikit waktu untuk membuat perencanaan dan pencatatan keuangannya. Manfaatnya akan terasa jika kita mau melakukannya dengan disiplin dan teratur. 


#athoughtofmine

#chindismenulis

#randomchindis






Jumat, 18 Maret 2022

Yang Terbang, Tapi Tak Hilang


 

TTM KLIP kali ini sangat menerbangkan, iya, sebuah kata terbang. Terbang yang bisa berarti melayang, hilang, lenyap, ataupun pergi. Tergantung, mau digunakan pada hal apa, demi sebuah maksud tertentu.


Bicara tentang sesuatu yang terbang dalam hidupku, ada dua hal yang kurasakan saat ini. Dua hal yang terbang dalam hidupku, untuk digantikan dengan hal lain, yang tetap bisa membuatku bahagia. 



Terbangnya cita-cita masa lalu


Sejak kecil aku ingin menjadi seorang guru. Beranjak dewasa aku ingin menjadi seorang psikolog yang bisa belajar memahami seluk beluk karakter dan menolong orang lain. 


Mungkin sebagian orang berpikir, mengapa tidak diwujudkan? Apa yang sulit? Kenapa tidak diperjuangkan?


Ya, mungkin aku akan dibilang sebagai orang yang tidak mau berusaha mencapai angannya. Itu bagi yang tidak mengenalku dengan baik. Sayangnya, aku tak banyak memiliki kenalan yang benar-benar mengenalku dengan baik, entah mengapa, aku memang bukan orang yang mudah untuk membagikan isi hatiku.


Ada hal yang harus aku tahan dari dalam diri, menahan ego yang bersisian dengan keterbatasanku. Atau mungkin memang aku belum beruntung bisa menggapainya. Cita-cita itu terbang setelah sempat aku berusaha, walau mungkin belum sekeras yang orang lain harapkan. 


Terbang melayang, namun ternyata tetap menyisakan jejak samar. Iya, tak menjadi guru ataupun psikolog sesungguhnya bagi orang lain, tetapi aku mendedikasikannya untuk keluarga, untuk anak-anakku, menjadi guru untuk mereka dan berusaha menjadi tempat mereka untuk berkeluh kesah dan bercerita tentang segala hal. 



Melepas ayah untuk terbang jauh


Ayahku, seseorang yang telah terbang dari hidupku, meninggalkanku bersama ibu dan adik-adikku. Satu hal dalam hidupku yang membuat hati dan pikiran sangkal, bahkan dalam beberapa waktu aku pun masih tak menerima.


Bagaimana aku tidak merasa kehilangan. Ayahku adalah laki-laki pertama yang kukenal dan dekat denganku, walaupun sifat keras kepala yang sama-sama dimiliki, tetapi sesungguhnya ia tak pernah melepaskan perhatian dan sayangnya pada diriku. 


Belum cukup rasanya aku berbakti pada ayahku. Belum banyak rasanya aku membahagiakannya. Belum sempat aku mendampinginya untuk sembuh dari sakit yang dideritanya. Terlalu banyak kata belum, dan itu semakin membuatku merasa sangkal tak berkesudahan.


Melepas ayahku terbang menghadap Ilahi bukanlah suatu hal yang lekas aku terima. Bahkan keikhlasan pun baru kukecap setelah beberapa waktu, setelah aku sadar bahwa ayahku pergi untuk sembuh, agar tak lagi merasakan sakit pada tubuhnya.


Aku kemudian meyakini, sesungguhnya yang terbang itu hanyalah ruh-nya. Ia tetap ada di hati dan pikiranku selalu dalam untaian doa setiap saat. Sekali lagi, walau tak mudah, tapi ada kebaikan dibalik itu semua untuknya.



Hikmah Yang Diambil


Dua hal yang terbang dari hidupku itu, aku yakin, bukanlah akhir dari waktu, bukanlah akhir dari apa yang sedang dijalani di hidup ini.


Cita-cita dan impian masa lalu yang tak tergapai, bukan artinya aku tak bisa meraih dalam bentuk lain. Biarlah semangat dan impian itu tetap aku miliki, meski dalam wujud yang berbeda.


Terbangnya ayahku menuju Pencipta-Nya disaat aku belum banyak memberikan yang terbaik untuknya, membuatku semakin menyadari bahwa waktu berjalan tanpa kusadari, tanpa bisa kutebak. Masih ada pesan-pesannya tersiratnya yang harus kulakukan, dan masih ada separuh hidupnya, ibuku, yang harus aku jaga dan sayangi sepanjang waktu.



Terbang, bukan berarti hilang

Terbang, mungkin demi hal lain

Terbang, tak mesti malang

Terbang, bisa jadi terselip kebaikan






#KLIP22

#Maretke18


Jumat, 11 Maret 2022

Keluarga Untuk Diriku

 


Keluarga, sebuah tema dari KLIP sebagai bagian dari challenge wajib yang harus diikuti semua member KLIP. Meskipun tak wajib pun, tema keluarga pastinya sangat menarik dan akan banyak kisah di dalamnya, karena bicara tentang keluarga pastinya luas sekali cakupannya.


Untukku pribadi, keluargaku adalah tempat aku untuk berkumpul bersama, saling berbagi kebahagiaan dan kesedihan, saling menyayangi, mencintai dan memberi semangat. Bersama dengan keluarga inti dan keluarga kecilku, kami belajar bersama untuk menjalani kehidupan dengan berusaha menjadi lebih baik setiap saat, meskipun tak dipungkiri terkadang ada batu sandungan atau konflik di dalamnya.


Kedua orang tuaku adalah keluarga terbaikku, yang menjadi tempatku bersandar dan berbagi sukacita. Sejak dahulu, sebisa mungkin aku tak ingin membagikan kesedihan jika masih bisa kutahan sendiri, karena melihat mereka senang dan bahagia itu menjadi kepuasan tersendiri. Apalagi semenjak ayahku tak ada, ibuku adalah satu-satunya keluargaku, selain adikku yang paling ingin selalu aku bahagiakan. 


Memiliki keluarga lengkap sejak lahir adalah rezeki dan anugerah dari Allah yang sangat aku syukuri. Karena tidak semua anak yang bisa merasakan apa yang aku rasakan dan miliki. Saat kecil, kadang aku diajak ke panti asuhan atau melihat ke keluarga lain yang mungkin kurang beruntung, agar selalu bersyukur dengan nikmat yang kumiliki, yaitu keluarga yang bahagia.


Sama halnya dengan saat ini, dimana aku mempunyai keluarga kecil sendiri, ada aku, pasangan dan anak-anak. Membangun keluarga kecil ini bersama-sama, dengan tujuan yang pasti diinginkan semua keluarga, yaitu bahagia, sehat, penuh limpahan rezeki dan kebaikan.


Anak yang bahagia biasanya lahir dari keluarga yang juga bahagia. Meskipun ada sebagian kecil anak-anak lain yang tetap bertahan dan bersyukur tetap menjadi diri yang bahagia, walaupun tak berasal dari sebuah keluarga yang bahagia. Dan mereka itu beruntung dari sisi lain, yaitu beruntung mempunyai hati yang kuat untuk tetap bisa berbahagia. 


Dan untuk menciptakan keadaan bahagia dalam keluarga, ada peran seorang ibu pula di dalamnya. Seorang ibu bisa dibilang sebagai salah satu bahan bakar kehangatan keluarga, bagi pasangan dan anak-anaknya. Itu sebab sering kita dengar tentang bagaimana seorang perempuan memiliki peran yang penting dalam keluarga. Selain menjadi seorang istri, seorang perempuan juga harus menjadi seorang hamba Allah, dan juga seorang ibu. 


Menjadi seorang istri dari seorang suami, tentu saja seorang perempuan harus bisa menempatkan dirinya sebagai seseorang yang bisa mendampingi pasangan dalam suka maupun duka, selalu saling mengingatkan dan bekerjasama dalam rumah tangga untuk membangun keluarga yang baik dan menyenangkan. 


Kemudian sebagai seorang hamba Allah, tetaplah seorang perempuan harus mengutamakan Allah dengan beribadah dan mengikuti ajaran dan perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya. Dengan beriman kepada Allah, seorang perempuan bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, sehingga dapat diterapkan pula ke dalam keluarganya.


Lalu sebagai seorang ibu, seorang perempuan memiliki banyak tanggung jawab dalam menciptakan keluarga yang nyaman. Seorang ibu berperan dalam memastikan tumbuh kembang seorang anak dengan baik, mulai dari kesehatan, pendidikan, keterampilan, adab dan etika, serta berbagai hal kehidupan lainnya. 


Namun tak berarti tidak ada peran seorang suami yang harus mendampinginya. Sebab seorang perempuan, seorang ibu, juga seorang manusia yang mempunyai keterbatasan fisik dan mental. Ada hal yang sangat perlu pula dijaga, agar kondisi dan kehidupan seorang perempuan sebagai ibu tetap dalam keadaan bahagia dan nyaman, demi menjaga kebaikan dalam keluarga.


Keluarga itu idealnya harus saling support, harus saling mengasihi, saling menyayangi, saling mengerti dan empati, saling membahagiakan, menyenangkan, serta mendoakan hal-hal baik.


Saat ini aku bersyukur dengan adanya diriku dan keluarga yang kumiliki. Aku masih bisa menjaga keluargaku dengan baik. Aku pun masih bisa berdaya dan berkarya sebagai seorang perempuan merdeka tanpa harus melupakan kewajibanku sebagai seorang anak dari orang tuaku, sebagai istri dan sebagai ibu.


Alhamdulillah. Selalu Bersyukur.


Jika ada yang merasa tak beruntung karena tak merasa memiliki keluarga, jangan khawatir, karena ada keluarga pun tak melulu hanya dengan orang sedarah. Masih banyak orang-orang yang bisa dianggap sebagai keluarga dengan segala kebaikannya.


Allah memberikan keluarga pada kita sesuai dengan kehendak-Nya. Bisa dengan siapa saja dan dari mana saja. Sedarah ataupun tak sedarah. Begitu pula yang kurasakan, selain keluarga sendiri, aku pun memiliki orang-orang baik yang kuanggap juga sebagai keluargaku.


Keluarga adalah hadiah dari Allah

Untuk dibahagiakan dan dikasihi

Keluarga bagai tempat yang indah

Untuk selalu saling menyayangi




#KelasPersiapan

#programKLIP2022

#KelasLiterasiIbuProfesional

#ibuprofesional2022

#ibuprofesionalforindonesia

#semestakaryauntukindonesia

#womenincooLABoration

#IP4ID2022

#KLIP2022MengantarCahaya

#KLIP22

#Maretke11





Senin, 07 Maret 2022

Aku dan Cerita tentang Perpustakaan

 




Perpustakaan ini salah satu tempat favoritku sejak zaman sekolah di SMA dan kuliah, selain kantin tentunya. Sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku, tempat yang tenang karena tak boleh berisik jika berada di dalamnya, tempat yang paling enak buat menyepi dari keriuhan saat istirahat sekolah maupun selepas kuliah.


Jadi kangen juga sama perpustakaan! Sudah sangat lama sekali aku tak pernah menyentuh yang namanya perpustakaan. Terakhir pergi ke perpustakaan kota saja sudah lama sekali, seingatku mungkin sekitar tujuh tahun lalu. Hmm … itu pun bukan untuk membaca atau meminjam buku, melainkan untuk menghadiri acara sekolah anak yang diadakan di perpustakaan. Kocak! 😄



Flashback kenangan perpustakaan saat SMA


Perpustakaan sekolah yang tak terlalu besar, tetapi cukup nyaman bagiku. Jika aku tak menemukan informasi ataupun jawaban dari tugas sekolah, perpustakaan jadi tempat utama yang aku kunjungi. Ya maklum saja, zaman itu belum ada google dan sejenisnya. Buku rangkuman pengetahuan saja paling top kala itu judulnya RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap). Itu buku yang paling sering aku baca setiap harinya, selain baca kamus Bahasa Inggris 😅. 


Kadangkala saat istirahat, terutama kala aku sedang berpuasa daripada melihat teman-teman asyik dengan cemilannya, aku juga berkunjung untuk membaca buku cerpen atau buku apa saja yang kutemukan menarik untuk dibaca. Mengobrol sesuatu yang tak ingin didengar orang lain pun sering aku lakukan di perpustakaan. Biasanya kalau ada teman yang ingin curhat 🤭, walaupun berbicara harus berbisik-bisik di balik buku.


Yang paling aku ingat lagi, kala sekolah sedang ramai mengadakan kegiatan class meeting setelah selesai ulangan semester, aku dan beberapa teman pergi ke perpustakaan untuk menonton final bola basket NBA. Perpustakaan sekolahku memang keren, walaupun harus tenang, tetapi tetap tersedia televisi dengan setelan volume yang mungkin hanya bisa didengar jika aku menempelkan daun telinga ke speaker televisi model tabung itu. Tapi tak mengapa, saat itu petugas perpustakaan sedikit berbaik hati mengizinkan.


Memang zaman SMA itu yang membahagiakan bukan cuma waktu menang main basket antar sekolah, tetapi perpustakaan juga punya cerita untukku. Oya satu lagi, siswa yang suka ke perpustakaan kala itu, biasanya akan ada tambahan cap sebagai siswa yang rajin membaca dan pintar, lho 😁. Mereka tidak tahu saja aku sebenarnya berada di urutan rangking ke berapa hehe ….



Perpustakaan Zaman Kuliah


Lain saat SMA, lain pula saat kuliah. Tujuan utamanya memang adalah untuk mencari buku-buku yang menunjang mata kuliah yang kupilih. Seingatku saat kuliah pun, google pun masih belum aku gunakan. Handphone saja masih yang hanya bisa menelepon, berkirim pesan, bermain game tetris atau ular-ularan, dan buat senter darurat. Walaupun aku sudah ada laptop pemberian dari om dan tante, tetapi untuk jejaring internet pun masih minim sekali saat itu. 


Perpustakaan di kampusku cukup besar dibandingkan saat SMA yang hanya sebuah ruangan. Ada tiga tingkat jika tak salah ingat. Lantai paling atas itu khusus kumpulan buku skripsi dari para mahasiswa yang sudah lulus.


Aku suka berada di perpustakaan ini, karena jelas sekali akan banyak buku-buku yang bisa aku dapatkan untuk tambahan informasi jika ada tugas dari dosen. Sesekali aku meminjam buku sesuai mata kuliah atau buku bacaan ringan seperti kumpulan cerpen. 


Sama dengan saat SMA, perpustakaan saat di kampus, juga salah satu tempat tujuan untuk bersantai dengan teman akrabku. Kami tetap membaca buku yang menarik untuk kami membaca sembari menunggu jam mata kuliah berikutnya, tetapi sesekali juga sambil mengobrol ringan sekedar curhat tentang dosen atau kakak tingkat yang rese 😁.


Nah iya, perpustakaan kampus ini juga tujuanku jika ada kakak tingkat yang memaksaku untuk ikut demonstrasi. Aku bukan mahasiswa yang suka demonstrasi, jadi pernah suatu ketika, kakak tingkat melihatku hanya di depan kelas menonton persiapan mereka yang hendak demo entah tentang apa, aku pun didatangi dan dipaksa untuk ikut serta karena aku mahasiswa baru. Dengan seribu macam alasan, aku pergi dengan cepat ke perpustakaan dengan dalih banyak tugas. Tak akan ada yang berani gaduh di perpustakaan.


Banyak memori di perpustakaan kampus selain tempatnya mencari buku. Di perpustakaan itu pula, aku mengejar deadline mengerjakan skripsi selama sekitar enam bulan. Mulai dari awal menentukan judul hingga akhirnya menuntaskan daftar pustaka skripsi. Di salah satu ruangan perpustakaan itu pula, aku menerima pengumuman sebagai salah satu mahasiswa dengan nilai bagus di jurusan dan juga lulus tes pekerjaan di sebuah perusahaan tambang ternama. 


Kenangan perpustakaan ternyata tak melulu soal buku-buku bacaan. Ada banyak hal yang terjadi juga di perpustakaan.


Yang jelas, aku masih punya PR dan janji  untuk mengajak anak-anakku ke perpustakaan daerah kota 🤭. Walaupun sebagian buku-buku bacaan sudah ada di  aplikasi Ipusnas, tetap saja ada rasa berbeda jika membaca langsung buku fisik. 


Semoga segera bisa terlaksana pergi ke perpustakaan lagi! ☺️





#TemaTantanganMenulisKLIP
#TemaTantanganMenulisKLIP2022
#programKLIP2022
#KelasLiterasiIbuProfesional
#ibuprofesional2022
#ibuprofesionalforindonesia
#semestakaryauntukindonesia
#womenincooLABoration
#IP4ID2022
#KLIP2022MengantarCahaya

#KLIP22

#Maretke7

Kamis, 03 Maret 2022

Sampah Hilang, Hati dan Pikiran Senang

 


Tantangan tema menulis yang lalu berkisah tentang bagaimana julid banyak terjadi di lingkungan sekitar kita. Begitu pula pengaruhnya yang terjadi pada diri sendiri, yang bisa membuat keresahan dan penyakit hati. Sementara itu pada orang yang kena julid, jika ia mendengar, maka tak jarang pada sebagian orang bisa mempengaruhi kehidupannya, namun pada sebagian orang lainnya pun, bisa jadi tak berpengaruh, hanya dibiarkan saja.


Julid itu termasuk juga salah satu sampah yang ada di dalam hati, pikiran dan hati kita. Selain itu ada pula jenis lain, seperti rasa amarah, kekesalan, kekecewaan, iri hati, perasaan dendam, merasa diperlakukan tidak adil, merasa rendah diri, tidak percaya diri, sifat egois, dan mungkin banyak lagi.


"Aku kesal dengan ibuku yang selalu membela adikku!"


"Aku benci melihat temanku selalu mendapat juara satu!"


"Mengapa aku seperti ini, sementara dia sangat istimewa!"


"Pokoknya, aku tak akan memberikan bantuan untuknya!"


"Aku tak akan memaafkan dirinya yang melukai hatiku!"


"Apalah diriku ini, hanya anak dari keluarga yang tak berada!"


"Sampai kapanpun, akan aku ingat selalu perbuatannya pada keluargaku!"


Beberapa kalimat di atas adalah contoh dari ungkapan di dalam hati atas hasil pikiran, yang disebabkan karena adanya masalah. Akhirnya timbullah kalimat-kalimat negatif seperti itu, yang keluar dari mulut maupun hanya tersimpan dalam hati.


Contoh-contoh kalimat di atas tersebut ada yang pernah terucap olehku, sehingga membuat detak jantungku berdetak lebih kencang, merasuk ke dalam hati hingga pikiranku pun terkadang menjadi tak menentu. 


Kok bisa? Iya bisa. Yang kurasakan sangatlah tidak enak. Walaupun di awal ada kepuasan dalam diri karena sudah meluapkan amarah, emosi, atau kekesalan yang dialami, namun ada sebuah perasaan lain pula yang muncul seakan memintaku untuk mengucapkan istighfar sebanyak-banyaknya.


Pikiran-pikiran dan ucapan-ucapan negatif itulah yang lama kelamaan menjadi tumpukan sampah di dalam diri. Tak terlihat namun secara tak sadar akan mempengaruhi diri. Aku tahu betul rasanya memiliki sampah di dalam hati, tak enak, baunya merasuk ke seluruh diri. Astaghfirullah.



Hati yang Sangkal Terus-Menerus


Ada perasaan sangkal yang membuat dada seakan seperti ditumpuk beban berat. Terkadang melakukan pekerjaan apapun bisa menjadi tak fokus dan tak konsentrasi, karena setiap saat memikirkan hal-hal yang tak sesuai dengan keinginannya. Rasanya ingin pula membalas atau membuat orang lain itu merasakan apa yang sedang dirasakan.



Pikiran Terganggu


Saling berkaitan dengan keadaan hati, pikiran adalah sesuatu yang juga bisa terganggu. Di dalam kepala mungkin terus berputar rasa emosi, marah dan kesal. Akhirnya pun bisa membuat pikiran kacau, hingga menderita sakit kepala yang terkadang pun bisa merambah ke penyakit lain, seperti gangguan pencernaan dan tekanan darah tinggi.



Hidup Terasa Sempit dan Buang Waktu


Hati terbebani, pikiran terganggu, muncul penyakit, hingga merasa hidup ini seolah tak adil, seolah hanya berpihak ke orang lain. Hidup terasa sempit sehingga banyak waktu yang menjadi terbuang, karena sibuk dengan menimbun hal negatif menjadi tumpukan sampah di dalam diri. 



Masing-masing orang punya cara untuk mengatasi dan menghilangkan sampah di hati dan pikiran. Begitu pula diriku. Aku pernah merasakan susahnya melupakan sesuatu yang menyakitkan dan hal yang membuatku marah. Bayangan saat disakiti, saat dikecewakan, saat dibuat marah dan emosi, terkadang muncul di hadapan secara tiba-tiba.


Berdamai dengan Diri Sendiri


Memulai dari niat yang dikuatkan dari dalam diri dan memahami lebih dalam bahwa Allah saja Maha Pemaaf. Aku berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan segala hal negatif yang menjadi sampah tak berbau namun dapat memudarkan aura kebahagiaan dalam diri. 


Berdamai dengan diri sendiri aku lakukan dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah, memohon doa, ampunan dan petunjuk-Nya. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit aku membuang tumpukan sampah di diri dengan hati yang ikhlas dan melepaskan pikiran negatif, menyerahkan segala sesuatunya hanya pada Allah yang Maha Mengetahui segala hal terbaik untukku.



Belajar Memaafkan dan Introspeksi Diri


Tak hanya berdamai dengan diri sendiri, menerima segala hal yang menimpa diri ini, sampah di hati pun berusaha dilenyapkan dengan memaafkan orang atau sesuatu hal yang menyebabkanku sampai lupa diri dan menumpuk sampah di hatiku. Aku belajar untuk meluaskan pintu maaf, serta tak lupa mengintrospeksi diri sendiri yang sangat kusadari pasti masih banyak kekurangan dan kelemahan.


Apa yang aku pikirkan dan inginkan, belum tentu sama dengan yang orang lain alami. Begitupun sebaliknya. Mencoba untuk belajar empati pada sesuatu yang membuat kacau hati, pikiran dan hidupku dengan tumpukan sampah itu. 


Mencintai Diri Sendiri, Tidak Membiarkan Sampah Menumpuk


Satu-satunya yang bisa membuat tak ada sampah pada diri, hati dan pikiran, adalah diri kita sendiri, diriku sendiri. Mungkin aku pernah membiarkan sampah hati itu bersemayam, namun aku sadar bahwa aku tak bisa apatis dengan keberadaannya yang mengganggu. 


Aku berusaha untuk tak terlalu banyak mendengar sesuatu yang tak perlu dan tak penting, cukup diresapi dan dipilah, mana yang positif, agar hal negatif tak sempat lagi menyapa dan menjadi bagian diri lagi. Sesekali, melakukan hening atau meditasi, bisa membuatku hanya memikirkan sesuatu yang baik dan melepaskan segala emosi.



Lalu, apakah saat ini masih suka ada rasa kesal, kecewa, marah dan emosi pada diriku? 


Semua itu adalah perasaan-perasaan yang wajar dan lumrah dimiliki oleh setiap orang. Namun jika kita ingin hari-hari selalu terasa bahagia dan selalu positif, segala rasa negatif yang muncul bisa dikelola dahulu dengan baik, diselesaikan dengan tuntas, sebelum sempat menggantung menjadi sampah permanen di diri, hati dan pikiran. 


Tetap mengingat bahwa kita adalah hamba Allah yang penuh kekurangan dan kelemahan, sehingga ada kontrol dalam diri kita untuk dapat menerima dan memaafkan hal negatif atau buruk yang menghampiri. Sehingga dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, hidup pun menjadi lebih berwarna dan membahagiakan.




#KLIP22

#Maretke4

#TTMsampah

#TemaTantanganMenulisKLIP

#TemaTantanganMenulisKLIP2022

#programKLIP2022

#KelasLiterasiIbuProfesional

#ibuprofesional2022

#ibuprofesionalforindonesia

#semestakaryauntukindonesia

#womenincooLABoration

#IP4ID2022

#KLIP2022MengantarCahaya

Jumat, 18 Februari 2022

Belajar Konsisten Menulis: Sharing Bunda Cekatan Keluarga Literasi Fiksi

 "Belajar Konsisten Menulis"


Pekan keempat sudah tiba di tahap ulat-ulat perkuliahan Bunda Cekatan. Di pekan ini kami masih berada di kebun Apel bersama keluarga yang mempunyai kesamaan dan kemiripan peta belajar. Keluargaku adalah keluarga literasi fiksi, bagian dari keluarga besar literasi.


Setelah perwakilan keluarga literasi fiksi menampilkan sharing ilmu melalui penampilan Go Live, beberapa dari kami anggota keluarga yang lain ikut mengisi sharing bersama melalui zoom meeting bersama anggota keluarga fiksi lainnya.


Setelah memilah dan memilih hal apa yang akan aku sharing selama belajar tiga pekan di tahap ulat, aku pun memutuskan untuk sharing tentang bagaimana aku belajar untuk konsisten dalam menulis. Ya, ini sesuai dengan peta belajar dan yang memang sedang aku pelajari.


Saat ini aku pun sedang berusaha untuk selalu menulis setiap hari, diantaranya karena aku sedang mengikuti tahun kedua berada di Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP), yang memberikan tantangan untuk menulis setiap hari juga tantangan menulis dengan tema-tema tertentu. Selain itu menulis setiap hari aku usahakan sebagai bagian dari menuangkan isi kepala dan rasa di hati yang aku rasakan, aku lihat dan dengar, yang tak mampu aku ungkapkan secara lisan.


Menyempatkan diri membuat slide materi sharing secara sederhana, bukan bermaksud untuk mengajari dan merasa sudah paling konsisten, tetapi sesuai dengan judul sharing yaitu Belajar Konsisten Menulis, disini aku pun masih dalam tahap belajar, masih berusaha untuk selalu konsisten bisa menulis setiap saat atau setiap hari.


Slide materi itupun aku sajikan berdasarkan apa yang saat ini aku sedang jalani dan pelajari. Beberapa hal yang sedang berusaha aku jalani antara lain adalah:


  • Kuatkan niat dan komitmen pada diri sendiri

Dalam memenuhi komitmen untuk konsisten dalam menulis, memang membutuhkan niat yang kuat bahwa kita ingin membuat tulisan, entah itu untuk pribadi maupun untuk dipublikasikan. Jika sudah memiliki niat dari hati dan komitmen yang kuat, menulis bukan lagi menjadi hal yang sulit dilakukan.


  • Tahu tujuan menulis untuk apa

Orang menulis pasti mempunyai tujuan, entah untuk kebutuhan mengisi suatu konten tulisan seperti mengisi blog dan media sosial atau hanya untuk curahan hati saja.

Jika sudah tahu arah tujuan kita menulis, setidaknya sudah tahu apa yang harus dilakukan dalam proses menghasilkan tulisan.


  • Sering membaca, mendengar atau melihat suatu informasi

Sering membaca itu dapat menambah wawasan bahkan ide kita dalam membuat dan mengembangkan sebuah tulisan menjadi karya yang bermanfaat dan bisa dinikmati diri sendiri maupun orang lain.

Selain membaca, mendengar dan melihat sesuatu hal atau informasi yang sedang terjadi di sekitar kita pun bisa menjadi sumber ide dalam membuat tulisan.


  • Menulis bebas tanpa beban, karena itu  tidak dilarang

Menulis itu bebas dilakukan, tanpa beban, selagi tetap memperhatikan adab dan etika dalam berkarya jika hendak dipublikasikan.

Jangan pernah takut memulai untuk menulis, karena setiap tulisan akan ada pembacanya masing-masing.

Melakukan free writing pun tak masalah. 


  • Usahakan memiliki waktu khusus

Tak semua orang bisa mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk diisi dengan menulis. Tetapi ini kembali pada pribadi masing-masing, bagaimana niat dan apa tujuannya ingin menulis.

Jika tak bisa mempunyai waktu khusus, menulis masih bisa kita lakukan di sela-sela waktu senggang atau saat kita tiba-tiba memiliki sebuah ide. Penggunaan aplikasi menulis di handphone bisa kita lakukan untuk lebih mendekatkan diri dengan menulis. Selain itu, selalu membawa buku catatan bisa membantu juga menyimpan ide sementara.


  • Jangan memaksakan diri, beristirahat sejenak

Menulis dan terus menulis, lalu tiba-tiba merasa buntu bahkan lelah, itu bisa saja terjadi. Istirahat saja dahulu sejenak dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan serta hal-hal yang bisa menentramkan hati dan pikiran, seperti menonton, membaca ringan, menonton atau refreshing berjalan-jalan.

Jika hati dan pikiran sudah nyaman, kita pun bisa menulis dengan nyaman dan seperti mendapatkan energi baru.


Sharing sederhana ini Alhamdulillah bisa dihadiri oleh beberapa anggota keluarga, yang bersama-sama belajar dan berdiskusi tentang cara bagaimana konsisten dalam menulis.


Mengutip quote dari J. K. Rowling yang menurutku cocok untuk menyemangati diri dalam menulis yaitu berbunyi:


"Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri."


Beruntung sekali bisa mengenal para anggota keluarga literasi fiksi yang sejatinya adalah orang-orang yang kemampuan literasi menulisnya bisa dibilang sudah diatasku. 


Semoga sharing selama 30 menit ini dapat membawa banyak berkah dan manfaat bagi diriku juga teman-teman lainnya.




#KLIP22

#Februarike18

#sharingbelajar

#bundacekatan

#kebunapelhutankupukupucekatan

#keluargaliterasifiksi

Bundles of Stories - Simplicity Writing

Waktu itu Berharga

    Aku menutup buku catatan harianku setelah selesai menuliskan rencana kegiatan untuk esok hari. Ini satu diantara kegiatan di akhir har...