Sabtu, 06 November 2021

Guru Jadi Favorit, Belajar Jadi Semangat

 


KLIP di minggu ini mengusung Tema Tantangan Menulis (TTM) tentang Guru Favorit. Pertama kali membaca tentang tantangan ini, seketika langsung flashback mengingat siapa saja pahlawan tanpa tanda jasa yang menjadi sosok favoritku saat menuntut ilmu. Ilmu dimana saja, karena guru itu pun bisa siapa saja. Ada guru di jenjang pendidikan formal, ada juga guru yang memberikan ilmu dan pendidikan informal. Keduanya sama-sama punya andil dalam membuatku mengetahui berbagai hal.

Yang namanya favorit, artinya yang disukai. Dari sekian banyaknya guru yang mengajar, ada beberapa orang yang jadi guru favoritku. Ada dua hal yang membuatku mengklaim si bapak atau ibu guru sebagai guru atau pengajar favoritku, yaitu karena menurutku beliau cakap (bukan cakep, ya 😆) dan jago saat mengajar di bidangnya, dan juga karena beliau mempunyai kharisma atau karakter yang membuatku jadi betah serta lebih semangat belajar 😊. 

Mengenal namanya seorang guru yang mengajar ilmu itu sejak TK. Tapi, terus terang aku tak begitu mengingat siapa saja nama guruku saat TK (maafkan saya, Bu 🙏🏻). Berbeda ketika beranjak masuk SD, selama enam tahun tentu saja aku punya beberapa guru favorit. Begitupun saat di bangku SMP, SMA sampai di bangku kuliah. 

Guru SD Favorit, Inspirasi Ingin Menjadi Guru

Saat di bangku SD dahulu, aku paling akrab dengan wali kelas yang juga menjadi guru matematika. Cara mengajarnya itu asyik sekali dan sering memberikan trik-trik hitung cepat yang membuatku akhirnya suka dengan pelajaran matematika. Lalu saat mengajar selalu membuat kita bisa mengerti dengan lebih mudah. 

Disitu juga aku mulai menyenangi dan bercita-cita menjadi seorang guru, karena menurutku saat itu menjadi seorang guru itu keren, pintar dan bisa mengajari banyak orang. Apalagi, ayahku sendiri adalah seorang dosen, semakin yakin aku akan profesi itu. Entah mungkin namanya masih kanak-kanak, jadi apa yang saat itu sering ditemui dan mengelilingi, menjadi seperti role model saja.

Guru Favorit saat SMP yang Bersahabat

Saat masuk SMP, guru favoritku adalah seorang guru olahraga dan guru bahasa Inggris. Guru bahasa Inggris menjadi favoritku karena aku suka dengan pelajaran bahasa Inggris, serta makin senang karena guru yang mengajarnya sangat menyenangkan dan membuat bahasa Inggris menjadi lebih mudah dipelajari.

Selain itu, ada seorang guru olahraga yang juga menjadi favoritku. Guru olahragaku itu sekaligus guru yang melatih ekstrakurikuler bola basket di sekolah, dan beliaulah yang membuatku pertama kali mengenal olahraga bola basket sampai akhirnya aku bisa masuk ke klub bola basket dan menjadi pemain di daerah kala itu. Beliau sosok yang juga dekat dan bersahabat dengan para siswa.

Masa SMA dengan Guru Favorit

Lagi-lagi karena menyukai pelajaran bahasa Inggris, guru bahasa Inggris saat SMA menjadi salah satu ibu guru favoritku. Bukan hanya alasan karena suka dengan pelajarannya saja, namun beliau ini sangat menyenangkan saat mengajar. Semangat, gaya dan caranya mengajar kadang membuatku berpikir kenapa jam pelajarannya tidak ditambah 😆, karena tak pernah bosan jika beliau mengisi jam pelajaran. Beliau pun sangat akrab dengan para siswa, dan bahkan jadi favorit para siswa lainnya. 

Tak cuma seorang ibu guru, bapak guru mata pelajaran Kimia saat kelas tiga juga menjadi guru favoritku. Bisa dibilang, beliau juga favorit beberapa siswa kelas IPA lainnya. Kebetulan sekali, beliau juga menjadi wali kelasku. Bapak guru yang pembawaannya paling kalem ini jarang sekali marah, bahkan hampir tidak pernah. Jika ia pun merasa kecewa atau kesal dengan kami yang kadang berbuat gaduh di kelas, beliau hanya berkata dengan pelan tapi jelas maksudnya. Walaupun aku tak pandai pelajaran Kimia, tetapi dengan beliau mengajar, aku tetap semangat dan senang belajar Kimia meski harus berusaha keras menghafal tabel periodik dan reaksi kimia 😎.

Kuliah dan Dosen Favorit

Jika saat sekolah istilahnya guru favorit, saat kuliah berganti menjadi dosen favorit. Tetapi seingatku, semua dosen saat itu bagiku sama porsinya, tak ada yang kurang maupun terlalu berlebihan, semuanya memberi pengajaran yang baik dan bisa dimengerti. Mungkin karena kuantitas pertemuan saat kuliah tak seperti saat di bangku sekolah yang setiap hari selalu bertemu. Saat kuliah, kadang dosen hanya kita temui 1-2 kali saja dalam seminggu dengan durasi 1-2 jam. Yang jelas, dosen yang tidak banyak memberi tugas merangkum, itu yang bisa dibilang menyenangkan 🤭.

Dosen favorit yang mengajar pada mata kuliah yang kuambil mungkin tak ada, tapi dosen wali dan dua dosen pembimbingku saat skripsi bisa dibilang adalah dosen yang sangat aku ingat sampai saat ini, walaupun aku sudah sangat lama tak tahu kabar beritanya. 

Salah satu dosen pembimbingku sangat berkesan bagiku, karena beliau salah satu bapak dosen yang sering dicap sebagai dosen killer dan ditakuti para mahasiswa. Aku tahu hal itu, tetapi justru saat pengajuan judul skripsi, dengan tegas dan mantap aku memilih beliau menjadi dosen pembimbing skripsiku, dan ini sempat membuatnya heran karena aku memilih beliau, sementara banyak mahasiswa yang menghindarinya. Alasanku sederhana saja saat itu, aku memilih beliau yang keras, tegas dan saklek itu agar saat seminar dan sidang akhir aku menjadi lebih kuat dan tahan banting menghadapi pertanyaan-pertanyaan dosen lain. Toh, pada dasarnya beliau orang baik dan tentunya mau tugas akhir mahasiswanya juga baik, jadi tak perlu takut hanya karena banyak yang berkata beliau dosen killer. Aku justru lebih takut dengan "dosen" di rumahku 😆, ayahku, yang selalu mengingatkanku untuk belajar dan berusaha dengan baik walaupun pilihan jurusanku kala itu, bukan sepenuhnya keinginanku. 

Terfavorit Sepanjang Masa

Membicarakan siapa guru favorit sepanjang masa, tentu saja, tidak lain adalah guru pribadiku sejak aku kecil hingga saat ini. Orang tua. Bukan cuma favorit lagi, tapi mereka adalah kebanggaan dan kecintaanku selalu. Karena sebelum menempuh pendidikan formal di bangku sekolah, bahkan saat sudah bersekolah pun, kedua orang tuaku sudah lebih dahulu menjadi guru bagi hidupku.

Terlihat klise? Tapi, ya memang benar adanya. Mau aku memiliki beberapa orang guru favorit di tempat lain, di luar sana, tetapi di dalam rumah dan sejak lahir sampai dewasa, ayah dan ibuku tetaplah yang paling terfavorit buatku. Pelajaran yang mereka berikan mungkin tak semuanya ada di dalam sebuah buku pelajaran, tetapi pelajaran hidup sehari-hari itulah yang membuatku bisa sampai seperti saat ini. Yang baik diteruskan, yang tak baik ditutupi dan ditinggalkan. 

Favorit, Jadikan Semangat

Seperti diriku, semua orang punya sosok guru yang diteladani dan disukai. Masing-masing juga mempunyai alasan tersendiri, mengapa menjadikan seseorang itu sebagai guru maupun pengajar favoritnya. Tentu saja, biasanya dengan mengidolakan seorang guru sebagai guru favorit, kita akan menjadi lebih semangat dalam belajar sesuatu. Hal ini sah-sah saja, karena tujuannya positif dan kadang bisa membuat diri kita lebih giat untuk berusaha mempelajari ilmu yang diberikan.

Bagaimana dengan teman-teman lainnya, apakah juga punya guru favorit? 😊

Sabtu, 02 Oktober 2021

Pak Pos, Aku Menunggu Surat!

 


Pak Pos, Aku Menunggu Surat!



Ada bel rumah bunyi, bergegas keluar.

Ada yang teriak 'pos!', bergegas keluar.

Mau masuk rumah, lihat kotak surat dulu.

Mau jalan keluar, lihat kotak surat lagi.


Kalau ingat zaman sering menunggu kedatangan surat, rasanya kangen juga. Kangen dengar pak pos yang datang ke rumah dan dengan suara khas memanggil. 


Tidak cuma kangen menerima surat, kantor pos pun jadi saksi kedatanganku untuk berkirim surat. Angkatan 1980-1990 pasti sangat akrab dengan pak pos yang kehadirannya dinantikan untuk menyampaikan sepucuk surat atau kartu pos.


Hmm, jadi ingat lagu dari penyanyi Vina Panduwinata yang terkenal dengan lagu Surat Cinta. Potongan liriknya pasti banyak yang ingat.


Hari ini 'ku gembira

Melangkah di udara

Pak pos membawa berita

Dari yang kudamba


Sepucuk surat yang wangi

Warnanya pun merah hati

Bagai bingkisan pertama

Tak sabar kubuka


(Yang kangen, boleh deh putar lagunya di https://youtu.be/0Cw0DR15B48 )


Pak pos memang sepertinya profesi yang bukan cuma mengantarkan informasi dan berita dalam sepucuk surat, tapi sekaligus mengantarkan aura kebahagiaan dan kegembiraan bagi yang menerima. Yang menjadi si pak pos, aku yakin, saat itu kalau melihat binar mata gembira dan senyum mengembang dari penerima, pasti hatinya juga gembira 😊. 


***


Dahulu, awal mula merasakan berkirim dan berbalasan surat saat mengenal majalah Bobo waktu masih di bangku sekolah. Ada satu rubrik sahabat pena yang berisi biodata teman-teman pembaca majalah Bobo yang ingin mencari sahabat pena untuk berbagi cerita dan pengalaman masing-masing. Aku termasuk pembaca setia majalah yang pernah berkirim surat dan kartu pos dengan sahabat pena di rubrik itu, walau tak bertahan lama. 


Kemudian saat sekolah itu pun, aku punya teman dekat yang pindah ke luar kota. Kami pun sering berbalasan surat. Berbagi cerita tentang pengalaman dan hari-hari di sekolah masing-masing. Kadangkala juga berkirim foto. Kertas suratnya saja bisa warna-warni dan ada wanginya! 😁 Pak pos pasti paham banget ini hehe.


Duh, kalau ingat itu, sekarang ini rasanya antara malu, geli tapi juga menyenangkan. Karena itu jadi kenangan yang tak bisa dilupakan.


pic: google


Koleksi kertas surat dengan motif lucu-lucu lengkap serasi dengan amplopnya. Kadang kala sampai bertukar kertas surat saat berbalas-balasan surat. Lalu perangko-nya saja kadang dibuka dengan hati-hati dan beberapa disimpan, walaupun aku bukan seorang filatelis (pengumpul perangko).


Bukan cuma surat saja, kartu pos dan kartu ucapan lebaran kala itu masih jadi favorit. Kalau saat menyambut hari raya, pak pos itu seingatku akan lebih sering ke rumah, demi mengantar kartu pos bergambar dan kartu-kartu ucapan lebaran. Kalau pak pos tiba membawa beberapa amplop, aku yang paling suka menerima dan mengeceknya, apakah ada untukku atau untuk ayahku. 


Kotak surat di depan rumah saat itu masih terpakai sekali. Kalau kita sedang tidak di rumah dan ada kiriman surat, biasanya pak pos bakalan masukin surat ke kotak pos kami. Ini pun juga jadi tugasku, dan aku memang paling sering mengecek isi dari kotak surat itu. 


pic: private collection


***


Seingatku, aku masih berkirim surat sampai tahun 2000-an. Tapi saat sudah beranjak SMP, SMA dan kuliah, tentu saja sudah tidak lagi menggunakan kertas surat yang bermotif-motif. Kertas bergaris khusus untuk binder yang biasanya aku gunakan. Amplopnya saja kadang aku buat sendiri dari kertas folio berwarna putih polos 😊.


pic: google


Berkirim surat pun masih dengan teman-temanku yang berada di luar kota. Ada beberapa temanku memang yang bisa dibilang saat itu sering berbalasan surat denganku, termasuk teman spesial kala itu, ehem… Iya, teman dekat yang berada jauh dariku. Bahkan saat aku sudah memiliki handphone jadul yang sudah bisa berkirim pesan, surat-menyurat pun masih dilakukan. 


Ya, begitulah, zaman itu surat adalah pelepas rindu kala tak bertemu lama. Mungkin kalau dikumpulkan bisa jadi buku kenangan hehe. 


Mau telepon, harus izin dan sembunyi-sembunyi dari orang tua. Belum lagi kalau ada yang iseng nguping pembicaraan. Beda sekali dengan sekarang yang bisa menggunakan handphone yang tentu saja lebih privacy. Kalau mau ke wartel, duh, kudu kumpulin uang saku dulu pastinya. Tau kan, berapa biaya interlokal? 😁


Itu sebab, surat lebih murah walaupun menunggunya diterima dan menunggu balasan butuh waktu lebih. Indah banget, kan. Kalau sudah begitu, pak pos itulah orang yang paling dicari-cari. 


Sekarang surat elektronik sudah lebih menjamur dan meringankan tugas pak pos untuk mengantarkan surat. Mungkin setahun saja bisa dihitung dengan jari, yang mana kalau ada pun, justru mengantar paket pesanan dari online shop 😆. 


Zaman semakin berkembang. Semua memang lebih mempermudah kita dan surat fisik bukanlah zamannya lagi. 


So, yang pernah merasakan kehadiran pak pos mengantarkan surat, pastinya tahu bagaimana rasanya. Kemudian memegang selembar bahkan berlembar kertas dengan tulisan tangan yang berkisah apapun, mulai dari persahabatan sampai kisah cinta.


Jadikan saja kenangan yang tak terlupakan, kalau kala itu aku termasuk penggemar sejati pak pos dan surat-surat yang dibawakannya untukku 🥰. 







#KLIP2021

#Oktoberke2


Bundles of Stories - Simplicity Writing

Waktu itu Berharga

    Aku menutup buku catatan harianku setelah selesai menuliskan rencana kegiatan untuk esok hari. Ini satu diantara kegiatan di akhir har...